Redaksi

Kamis, 26 Agustus 2010

Taka Bonerate Terancam Rusak Akibat Bom Ikan


Keindahan Taman Nasional Taka Bonerate yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar kini terancam rusak akibat masih maraknya aktivitas pengeboman ikan di kawasan tersebut. Hal ini juga disebabkan masih rendahnya pemahaman dan kepedulian masyarakat setempat terhadap kelangsungan hidup biota laut di kawasan tersebut.
    Padahal Taman Nasional Taka Bonerate memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Luas atol tersebut sekitar 220 ribu hektar dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 kilo meter persegi.
    Kekhawatiran tersebut diungkapkan Direktur Polisi Perairan Polda Sulsel Kombes Polisi Agus Sutikno di sela-sela mendampingi Kapolda Sulsel Irjen Polisi Adang Rochjana yang melakukan supervisi di Markas Polair Polda Sulsel di Supa, Kabupaten Pinrang, Selasa (2/3).
"Makanya saat ini kami perketat dan rutin melakukan patroli untuk mencari para pelaku pengeboman ikan di kawasan tersebut," ujar Agus kepada wartawan. Sekadar diketahui, Taka Bonerate merupakan salah satu kawasan wisata bahari di Sulsel yang sudah dikenal luas secara nasional maupun mancanegara.
Topografi Taka Bonerate sangat unik dan menarik. Sebab atol di kawasan ini terdiri atas gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas dan tenggelam, membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak.
Di kawasan ini terdapat terumbu karang yang sudah teridentifikasi sebanyak 261 jenis dari 17 famili. Sebagian besar jenis-jenis karang tersebut telah membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.
 Juga terdapat sekitar 295 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp.), cakalang (Katsuwonus spp.), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan baronang (Siganus sp.).
    Makanya, tambah Agus, dengan kekayaan alam yang dimiliki kawasan tersebut menjadi daya tarik para pemburu ikan bernilai ekonomis tinggi tersebut. Namun disayangkan, para pencari ikan itu ada yang menggunakan bom ikan untuk mendapatkan ikan dengan melimpah dengan cara cepat.
    "Padahal, dengan bom ikan yang selalu terjadi di kawasan tersebut, perlahan akan merusak biota laut di kawasan tersebut. Hal ini harus menjadi perhatian bersama kita," ujar Agus. (*).

Taka Bonerate Terancam Rusak Akibat Bom Ikan


Keindahan Taman Nasional Taka Bonerate yang masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar kini terancam rusak akibat masih maraknya aktivitas pengeboman ikan di kawasan tersebut. Hal ini juga disebabkan masih rendahnya pemahaman dan kepedulian masyarakat setempat terhadap kelangsungan hidup biota laut di kawasan tersebut.
    Padahal Taman Nasional Taka Bonerate memiliki karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva. Luas atol tersebut sekitar 220 ribu hektar dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 500 kilo meter persegi.
    Kekhawatiran tersebut diungkapkan Direktur Polisi Perairan Polda Sulsel Kombes Polisi Agus Sutikno di sela-sela mendampingi Kapolda Sulsel Irjen Polisi Adang Rochjana yang melakukan supervisi di Markas Polair Polda Sulsel di Supa, Kabupaten Pinrang, Selasa (2/3).
"Makanya saat ini kami perketat dan rutin melakukan patroli untuk mencari para pelaku pengeboman ikan di kawasan tersebut," ujar Agus kepada wartawan. Sekadar diketahui, Taka Bonerate merupakan salah satu kawasan wisata bahari di Sulsel yang sudah dikenal luas secara nasional maupun mancanegara.
Topografi Taka Bonerate sangat unik dan menarik. Sebab atol di kawasan ini terdiri atas gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas dan tenggelam, membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak.
Di kawasan ini terdapat terumbu karang yang sudah teridentifikasi sebanyak 261 jenis dari 17 famili. Sebagian besar jenis-jenis karang tersebut telah membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.
 Juga terdapat sekitar 295 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp.), cakalang (Katsuwonus spp.), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan baronang (Siganus sp.).
    Makanya, tambah Agus, dengan kekayaan alam yang dimiliki kawasan tersebut menjadi daya tarik para pemburu ikan bernilai ekonomis tinggi tersebut. Namun disayangkan, para pencari ikan itu ada yang menggunakan bom ikan untuk mendapatkan ikan dengan melimpah dengan cara cepat.
    "Padahal, dengan bom ikan yang selalu terjadi di kawasan tersebut, perlahan akan merusak biota laut di kawasan tersebut. Hal ini harus menjadi perhatian bersama kita," ujar Agus. (*).

Rabu, 25 Agustus 2010

Riset Penamaan Selayar



Salah satu buku hasil riset yang menunjukkan bahwa Selayar memiliki hubungan dengan Asia Daratan adalah hasil penelitian seorang berkebangsaan Perancis ( lupa nama orangnya ).
Riset itu dilakukan di Indo China dan dia sempat membahas masalah Nekara. Nekara hanya ada dua di dunia. Satu ada di Indo China dan satunya lagi ada di Selayar. Ada yang mengatakan bahwa yang membawa Nekara ke Selayar adalah saudagar dari China / Indo China.
Saya melihat postur tubuh, wajah Indo China banyak yang mirip dengan Orang Selayar, tentunya tidak semuanya mirip. Sebab kemungkinan juga ada Selayar Asli ( saya gak tau yang mana) karena walaupun sama-sama dari Selayar...ada kemungkinan pada mulanya berasal dari suku bangsa yang berbeda.
Ada juga mungkin keturunan Arab, Tionghoa, India dan lain-lain. Nah kalau keturunan India ( maksudnya dulu2nya leluhurnya India ), bisa nampak jug daru wajah, warna kulit dan lain-lain.
Sewaktu saya mengunjungi selayar beberapa tahun lalu, saya melihat beberapa penduduk yang mirip2 India baik dari postur tubuh, wajah dan warna kulitnya. Yah walaupun dia mengatakan saya ini Selayar asli...itu hanya karena sudah lama di Selayar. Kebanyakan face/wajah Orang Selayar seperti Orang Indo China/ Tionghoa.
Lihat saja fasenya Laksamana Meorsalim Daeng Mamangung, salah salah seorang Jenderal Angkatan Laut Kelahiran Selayar. Nah dia diklain oleh dua suku. Pertama : Goa atau kerajaan Gowa mengklaim bahwa Moersalim adalah Putra Selayar dan juga sekaligus kebanggan Makassar/Kerajaan Gowa.
Kedua, info baru dengar dari Orang Luwu dan juga kebetulan keturunan bangsawan, bahwa Moersalim adalah cucu dari salah seorang anak panglima dari Kerajaan Luwu.

Asal-Usul Penamaan Selayar


Sebenarnya Selayar bukanlah  nama salah satu suku, tapi nama pulau. Yang mendiami Pulau Selayar sekarang ini terdiri dari berbagai macam suku seperti Suka Makassar, Suku Bugis, Suku Bajo, Suku Tionghoa, Arab dan lainnya dan sudah membaur semua.
Menurut saya pribadi, kecil kemungkinan Orang Selayar berasal dari Jawa, dilihat dari berbagai aspek.  1. Face/muka. Muka orang Jawa dan Selayar tidak mirip. Kulit sawo matang tidak bisa jadi ukuran bahwa itu sama.
2. Adat istiadat, saya lihat tidak ada yang sama.3.Orang Jawa bukan tipe orang yang suka berlayar tetapi cenderung menempati pulau besar/daerah yang luas. Bahwa banyak Orang Jawa yang jadi pelaut itu kemudian karena sudah ditraining dan sekolah jadi pasti bisa berlayar.
Pengalaman saya tinggal di Pulau Jawa, merasakan bahwa adat istiadat di Tanah Jawa sama sekali tidak mirip dengan Selayar. Adat istiadat di Selayar lebih mirip dengan adat istiadat yang ada di Tiongkok.
Di Tiongkok sendiri ada salah satu suku namanya Suku Salar dan kalau saya lihat posturnya mirip2 Orang Sulawesi, agak pendek dan bermata agak-agak sipit. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah itu yang kemudian ke Selayar.
Terus saya juga pernah merantau ke Pulau Formosa atau Taiwan, disini ada beberapa adat istiadat dan cara-cara masak makanan mirip dengan cara-cara di Selayar. Nah sebagai tambahan bahwa penduduk Taiwan sekarang ini berasal dari China Daratan/Tiongkok dan dintaranya ada mungkin ada Suku Salar.
Terus saya pernah diajak nonton sama teman dari Formosa, setelah selesai nonton saya ditanya : Bagaimana pendapatmu tentang film tadi. ?? Saya jawab bahwa film ini berkisah tentang petualangan dan ini juga dikisahkan secara turun temurun di Selayar.
Lalu saya bandingkan dengan adat istiadat Indo China/Vietnam...ini juga ada kemiripan dengan adat istiadat Selayar...sampai saya heran. Dan jangan salah...ada benda di Selayar namanya NEKARA persis sama dengan di Indo China.
Ada teman saya Orang Jawa, mereka tidak bisa akur dengan Vietnam, tetapi saya justru bisa lebih akur dengan mereka. Sifat keterbukannya jelas dan tidak basa-basi. Kalau Jawa kan kebanyakan basa-basi.
Mari makan..tapi dia makan sendiri, kalau Orang Indo China paling pantang ngajak orang makan kalau memang tidak akan memberi makanan. Nah Orang Selayar juga demikian.Saya pernah membaca artikel ( lupa apa namanya ) sewaktu saya masih di Indonesia.
Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa Orang Selayar sebetulnya adalah percampuran antara penduduk pribumi dengan Suku Tionghoa. Tentu saja tidak akan sama dengan Tionghoa sekrang ini karena berbeda agama, tetapi secara adat istiadat dan kekerarabatan sangat banyak persamaan. Indo China juga pada awalnya berasal dari China dan penduduk sekarang ini merupakan percampuran antara penduduk pribumi di Indo China dengan masyarakat dari Tiongkok.

DishubKominfo Selayar Bahas Tarif Angdes


Hari Senin, (16/8) sekira pukul 10.00 pagi kemarin, Dishubkominfo Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel,  menggelar rapat pembahasan tarif angkutan dan biaya operasional  angkutan pedesaan, bandara, dan pelabuhan laut.  
Selain dihadiri sekretaris, para kepala bidang, kepala seksi ,kasubag hukum & perencanaan lingkup Dishubkominfo Kepulauan Selayar,  rapat hari itu juga sempat menghadirkan sejumlah tamu undangan lain. (*)