Redaksi

Rabu, 29 Desember 2010

Lima Belas Tahun MCS Coremap Phase II Kawal Pengembangan Wisata Pantai Kepulauan Selayar


Kekayaan akan potensi sumber daya alam lingkungan pesisir laut telah menempatkan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel, sebagai salah satu kawasan pengembangan wisata pantai yang menarik dan terbilang aktif di belahan Kawasan Timur Indonesia.
Tak heran, jika selama lima belas tahun keberadaannya di daratan Bumi Tanadoang, Coremap sebagai lembaga rehabilitasi pengelolaan terumbu karang jangka panjang yang diprakarsai oleh  Pemerintah Indonesia, MCS Coremap berhasil membuktikan kemampuannya  menyulap Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi kawasan pantai nelayan.
Indikator ini, sangat jelas terlihat, pada kian nyatanya aktivitas nelayan di daerah yang sebagian besar penduduknya masih sangat menggantungkan hidup dari hasil melaut tersebut. Dimana, kondisi ini turut memberikan dukungan terhadap tumbuh dan berkembangnya aktivitas wisata kuliner, seiring dengan mulai tersebarnya, rumah makan sari laut yang menyediakan sajian seafood.
Padahal sebelumnya, kekayaan terumbu karang daerah ini dinyatakan telah banyak mengalami kerusakan, sebagai bias dari ulah manusia tak kenal ramah lingkungan dalam melakukan aktivitas penangkapan sumber daya ikan dengan menggunakan bom dan bius.
Hal inilah yang kemudian mengundang keprihatinan dan mendorong berbagai upaya untuk menyelamatkan khazanah yang tak ternilai itu. Salah satu diantaranya, dengan menanamkan pemahaman, pengertian, kesadaran, dan kecintaan masyarakat terhadap ekosistem terumbu karang.
Beragam langkah terobosan pun ditempuh lembaga Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II Kabupaten Kepulauan Selayar dalam rangka untuk melindungi dan melestarikan ekosistem yang sangat berharga ini dari kepunahan melalui serangkaian kegiatan sosialisasi penyadaran masyarakat.
Termasuk diantaranya dengan menggelar kegiatan Dakwah Terumbu Karang (SAD) guna mendidik dan menumbuhkan kelompok masyarakat  beriman, berbuat ihsan, beramal shaleh,  plus, mencetak lahirnya manusia yang memiliki kesadaran tentang lingkungan hidup, khususnya, terhadap lingkungan laut.
Melalui kegiatan Dakwah Terumbu Karang, diharapkan akan lahir pula manusia berwawasan terumbu karang yang mampu melestarikan terumbu karang dan berupaya mencegah pengrusakan habitatnya melalui penegakan amar ma’ruf nahi mungkar pada mahluk hidup.
Kegiatan ini sendiri dimaksudkan untuk mendidik dan menjadikan masyarakat sebagai kelompok nelayan professional dalam pemanfaatan kekayaan laut, terutama pada pelestarian sumber daya laut dan keanekaragaman sumber daya hayati lainnya, termasuk, terumbu karang.
Mengingat fungsi terumbu karang sebagai terumbu tepi, penghalang, dan pemecah gelombang yang melindungi daerah pantai rendah dari dampak erosi. Selain, terumbu karang juga turut memberikan andil besar pada penambahan (akresi) daratan melalui ketersediaan timbunan pasir kapur pada kawasan pulau di kerendahan.
Satu hal terpenting yang perlu disadari bahwa terumbu karang merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya sumber daya perikanan, sekaligus sebagai wilayah pengembangan sumber tambang kapur. Oleh karenanya, upaya penanggulangan kerusakan lingkungan pesisir dan laut menjadi sangat penting artinya.
Meski perlu disadari, bahwa hal tersebut baru akan dapat tercapai melalui pembuatan peraturan daerah (Perda) yang turut ditunjang oleh ketersediaan dana maksimal serta dukungan masyarakat dan peranan mubaliq dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat.
Program ini menjadi sangat urgen untuk diterapkan, agar masyarakat dapat sedini mungkin  menghindari segala bentuk kegiatan yang berpotensi merusak lingkungan laut, termasuk menghindari penggunaan alat tangkap yang berpeluang merusak ekosistem terumbu karang, dan menekan dampak kerusakan yang diakibatkan oleh perilaku destruktif manusia.
Dengan mulai tumbuhnya pemahaman, kesadaran, keterlibatan, dan kepeduliaan masyarakat dalam pelestarian ekosistem terumbu karang, maka, bukan sebuah hal yang tiadk mungkin, bila  angka tutupan terumbu karang dapat ditekan dan diminimalisir.
Apatah lagi, disaat generasi muda dapat tergugah untuk melakukan inovasi dan meningkatkan kepeduliaanya terhadap langkah pelestarian terumbu karang. Terkhusus, untuk kawasan pesisir pulau-pulau, dipandang perlu, untuk menggiatkan rehabilitasi dan penanaman kembali hutan mangrove melalui kerjasama yang baik, antara pemerintah dan masyarakat. Pada program ini, diharapkan pula adanya bantuan subsidi pemerintah maupun pihak swasta.

              

Rabu, 24 November 2010

Digugat Ke MK, Syahrir Wahab Dapat Oleh-Oleh Rp. 72 M

Setelah Mahkamah Konstitusi menetapkan putusan atas perselisihan pemilukada Kabupaten Kepulauan Selayar pada tanggal 03 agustus 2010 yang lalu, yang menyatakan menolak secara keseluruhan gugatan pemohon yang terdaftar di MK dengan Nomor Perkara 73/PHPU-DIII/2010 /mahkamah Konstitusi tentang Perselisihan Penetapan Hasil pemilukada Kabupaten Kepulauan Selayar 2010, maka dapat dipastikan bahwa pasangan Syahrir Wahab-Saiful Arief yang secara hukum akan dilantik pada tanggal 30 September 2010 mendatang. Kemenangan pasangan bertag-line SYIAR tersebut diperoleh dengan seluruh tahapan konstitusi yang berakhir pada Putusan Final dan mengikat Mahkamah Konstitusi.
Menurut Drs. Syahrir Wahab, kemenangan Syiar dapat dikatakan kemenangan Murni dan Mutlak setelah semua tahapan baik Pemilukada maupun gugatan Pasca pemilukada dilalui dan Syiar berhasil memenagkan semua tahapan tersebut. Hal tersebut di Sampaikan Syahrir Wahab di hadapan ribuan Pendukungnya  pada Acara penjemputan Kembali Syahrir Wahab di Rumah jabatan Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar Pasca Gugatan ke MK pada hari Sabtu 07 Agustus 2010.

Kedatangan kembali Syahrir Wahab, setelah mengikuti proses persidangan di MK dan pulang membawa kemenangan tampaknya merupakan sebuah kemenangan yang harus dirayakan oleh para pendukungnya. Hal tersebut terbukti dengan ratusan pendukung yang sudah berada di pelabuhan Pamatata Selayar untuk menjemput kembali  Sang Incumbent. Sambutan hangat sekaligus haru tersebut berlanjut hingga ke rumah jabatan Bupati Selayar yang sudah dipadati pendukungnya  sejak pagi hari.

Lebih lanjut Syahrir mengatakan, sejak awal dengan melihat gugatan yang diajukan pemohon di MK dirinya sudah yakin akan menang, oleh Karena itu Syahrir Wahab mengaku cukup santai menghadapi proses hukum di MK. Meskipun diakui bahwa selama masa gugatan di MK berjalan banyak informasi-informasi yang berkembang tentang dirinya, Ada yang mengatakan saya strock, ada yang mengatakan saya serangan jantung, bahkan ada yang mengatakan saya telah bertengkar dengan pak syaiful Arief, semua itu bohong, saya sehat-sehat saja,  bahkan berat badan saya bertambah, tegas mantan Sekda jeneponto ini  yang disambut tepuk tangan oleh ribuan Pendukungnya.

Syahrir Wahab mengakui bahwa perjuangan yang sampai pada tahapan putusan akhir MK memang bukan proses yang mudah . Meskipun demikian dirinya mengaku sangat santai menghadapi gugatan tersebut, hal tersebut tidak terlepas dari keyakinan yang ditanamkan oleh pengacaranya, yang disebut Syahrir sebagai pengacara “kawakan” Yaitu Bambang Widjayanto. Untuk pengacara ini saja diakui bahwa Syahrir harus mengeluarkan finansial yang cukup banyak, ditambah biaya akomodasi saksi dan lain-lain, biayanya luar biasa, bahkan hampir menyamai biaya Pilkada, jelas Syahrir.

Meskipun demikian, Syahrir Wahab mengaku mendapat Hikmah dengan adanya gugatan di MK, bahwa selama di Jakarta Syahrir Wahab mengaku tidak pernah ke Gedung MK, dan tidak pernah mengikuti persidangan. Saya justru berusaha mencari jalan untuk memperjuangkan kabupaten kepulauan selayar di  Pusat, dan Alhamdulillah tidak main-main, bahkan saya sudah berhasil mendapatkan anggaran untuk Jalanan dengan anggaran kurang lebih 55 Milyar rupiah dan anggaran untuk rehabilitasi ikan Karang yang jumlahnya sekitar 17,5 Milyar rupiah. Angaran jalan dimaksud adalah APBN untuk pembangunan jalan dari kawasan TPI Bneteng menuju desa Padang, dan anggaran rehabilitasi ikan karang di sekitar Pulau Gusung, hal tersebut terkait dengan penetapan Selayar sebagai Pusat Pengembangan ikan karang Nasional. Informasi ini disambut tepuk tangan keyakinan oleh ribuan pendukung Syahrir Wahab yang memadati rumah jabatan Bupati Selayar. Saya hanya berharap kemenangan Syiar akan berbuah kesejahteraan masyarakat kabupaten Kepulauan Selayar, tutup Syahrir Wahab.

Acara Penjemputan Syahrir wahab sendiri diakui tidak direncanakan, bahkan Syahrir Wahab menolak untuk dijemput secara besar-besaran, oleh karena itu tidak ada undangan beredar. Akan tetapi karena keinginan dari para pendukung meskipun berita kedatangan Syahrir Wahab hanya dari mulut ke Mulut akan tetapi antusiasme pendukungnya untuk merayakan kemenangan menyemarakkan rumah jabatan Bupati Selayar. Wal hasil dibuatlah acar penjemputan mendadak dan apa adanya yang diwarnai dengan tangis haru kemenangan Syahrir wahab dan pendukungnya.  (Rep.Fadly Syarif)

Selasa, 23 November 2010

Perairan Laut Kepulauan Selayar Mendapat Perhatian Serius Aparat Pengamanan

 Selama Bulan November 2010, Dua Kapal Perang Masuk Bersandar di Dermaga Rauf Rahman


Perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar tampak mendapat sentuhan perhatian serius aparat keamanan dan sejumlah instansi terkait lainnya. Terbukti dalam beberapa bulan terakhir, kegiatan patroli rutin mulai gencar diadakan di wilayah territorial kabupaten yang terletak di penghujung paling selatan jazirah Provinsi Sulawesi-Selatan ini.
Sebut saja diantaranya, gelar patroli rutin jajaran Polairud, sampai kepada rangkaian kegiatan patroli yang belum lama ini turut dilakukan jajaran Mabes Polri dengan menggunakan kapal perang KM. Belibis, yang selanjutnya disusul, oleh kunjungan patroli  serupa dari jajaran  TNI-AL Danlatamal wilayah VI Makassar.
Dalam bulan November 2010 ini saja, tercatat sedikitnya dua kapal perang masing-masing milik Mabes Polri dan TNI-AL  satuan Papua yang diperbantukan di Danlantamal wilayah VI Makassar masuk bersandar di dermaga Rauf Rahman Benteng Selayar.
Informasi yang berhasil dihimpun wartawan di lapangan menyebutkan, rangkaian kegiatan patroli rutin TNI-AL tersebut sengaja dilaksanakan dalam rangka meminimalisir potensi kejahatan yang dimungkinkan terjadi di perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar.
Baik itu yang sifatnya, kegiatatan illegal fishing, perompak, maupun tindak kejahatan penyelundupan barang-barang terlarang semisal penyelundupan bahan baku bom ikan melalui jalur laut. Selain itu, kegiatan patroli ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya tindak kejahatan transaksi jual beli bahan bakar minyak secara illegal.  Menyusul, mendadak langkanya pasokan BBM yang masuk ke Kabupaten Kepulauan Selayar dalam beberapa bulan terakhir.
Hal tersebut didasarkan pada sejumlah rangkaian kegiatan penangkapan sebelumnya yang dilakukan aparat Polairud ter terhadap para pelaku tindak kejahatan di perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar. Misalkan saja, penangkapan terhadap KM. Elfhia yang beberapa waktu lalu tertangkap basah melakukan pengangkutan 25 ton BBM jenis solar tanpa kelengkapan dokumen resmi. Berikut, penangkapan salah satu kapal jenis KLM bermuatan kayu illegal. (*)

Polisi Amankan 275 Kg Bahan Bom Ikan

Polisi Amankan 275 Kg Bahan Bom Ikan

Kapal Patroli Mabes Polri Susuri Perairan Kepulauan Selayar

Kapal patroli Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengarah menuju wilayah selatan Provinsi Sulawesi-Selatan. Pergerakan tim operasi Mabes Polri ini dimulai dari Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan terakhir merapat di dermaga Rauf Rahman Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar.
Menurut Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP. Setiadi, “kunjungan kerja KM. Belibis ke daerah penghasil jeruk manis ini, dilakukan dalam rangkaian kegiatan patroli rutin dengan mendasari tingginya angka kejahatan illegal fishing di wilayah hukum Polres Kepulauan Selayar”.
Hal ini sekaligus menjadi bukti nyata bagi masyarakat bahwa Polri sebagai aparat penegak hukum tidak pernah tinggal diam dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya untuk menindak para pelaku kejahatan tanpa tebang pilih.
Meski demikian, Setiadi tidak dapat menjelaskan secara detail jadwal patroli yang akan dilakukan KM. Belibis di perairan Kepulauan Selayar disebabkan karena hal ini merupakan program langsung Mabes Polri.
“Pihaknya mengaku, baru akan melakukan koordinasi dengan para personil di atas kapal Patroli KM. Belibis yang sengaja singgah transit di dermaga Rauf Rahman, untuk menantikan cuaca di perairan laut Kepulauan Selayar kembali membaik, sehingga tim patroli Mabes Polri ini, dapat meneruskan perjalanan menyusuri seluruh wilayah Kepulauan Bumi Tanadoang Selayar.”
Menanggapi pertanyaan wartawan terkait rencana patroli ke kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate, AKBP. Setiadi menegaskan, hal tersebut tergantung pada perkembangan informasi yang didapatkan tim patroli Mabes Polri di lapangan. Setiadi menandaskan, pada persoalan target operasi, Polri enggan berkata kira-kira. Semua harus berdasarkan pada fakta lapangan.
Bila dalam perjalanannya, tim patroli mendapati tindak kejahatan di laut, maka pada saat itu juga, tim akan melakukan penindakan tegas berdasarkan ketentuan UU Kepolisian Negara Republik Indonesia. Sekilas hal ini menggambarkan, bahwa Polri tidak pernah duduk manis. Apatah lagi, sampai berpangku tangan, melihat potensi pelanggaran hukum yang terpampang di depan matanya. (*)

Khawatir Kehabisan Bensin Ratusan Pengendara Padati SPBU Jl. Pahlawan

Bila sebelumnya, sekira pukul 07.30 WITA kondisi Pangkalan Pengisian Bahan Bakar Minyak terbesar di dalam kawasan kota Benteng sempat terpantau sepi dari aktivitas transaksi jual beli bensin.
Namun, menjelang pukul 09.00 hari Hari Senin, (15/11) pagi, ratusan unit kendaraan empat dan roda dua mendadak memadati SPBU milik H. Paharuddin yang terletak di ruas Jalan Pahlawan tersebut. Padahal sebelumnya, pintu sebelah selatan dan utara SPBU tampak tertutup rapat.
Bahkan, tak seorang pun petugas SPBU yang dijumpai berada di sekitar lokasi. Lebih jauh, areal SPBU terlihat diwarnai tumpukan drum kosong berserakan dan parkiran mobil pick up warna coklat, jenis Mitsubishi, DD. 8047 G.
Kendati demikian, pengelolah SPBU bernama Ramina Paharuddin, menyebutkan, “kepadatan ini sudah berlangsung selama beberapa hari. Dan sampai sejauh ini, 11 drum bensin yang di stand by kan pengelolah SPBU setiap paginya, habis terjual sebelum pukul 10.00 WITA.
Kondisi serupa berlangsung pada sore hari. Di mana, bensin yang habis terjual terkadang mencapai 4 sampai 5 drum. Khusus, untuk hari Senin, (15/11) pagi, Pangkalan ini telah menghabiskan sedikitnya 9 drum bensin. Sehingga stock yang tersedia kini, tinggal 7 drum lagi. Lebih jauh Ramina menjelaskan, “sisa stock bensin ini diprediksikan bakal habis pekan ini.(R.05)

Prioritaskan Potensi Kelautan & Perikanan Sebagai Sektor Unggulan Utama Kabupaten Kepulauan Selayar

Dengan mempertimbangkan kondisi letak geografis daratan Kabupaten Kepulauan Selayar yang 48 persen wilayahnya terdiri dari bentangan lautan luas. Maka dalam kaitan itu pula, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, melalui Dinas Kelautan & Perikanan, bertekad menjadikan potensi kelautan & Perikanan sebagai leading sector unggulan utama pada rangkaian program pembangunan daerah.
Hal ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah kabupaten, dalam upaya menggenjot peningkatan taraf kesejahteraan rakyat. Khususnya, masyarakat nelayan pesisir dan pulau-pulau kecil. Untuk itu, Dinas Kelautan & Perikanan telah mencanangkan sejumlah program skala prioritas dengan menyadari posisinya sebagai instansi teknis yang tugas pokok dan fungsinya adalah membantu bupati dalam rangkaian pembinaan sector kelautan & perikanan.
Program itu sendiri, terdiri dari peningkatan system motorisasi melalui pengalokasian dana pengadaan 800 unit mesin katinting pada penyusunan RAPBD TA. 2009-2010. Demikian dijelaskan Kepala Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Dr. Ir. Marjani Sultan, M.Si.
Menurutnya, pemerintah kabupaten telah mendistribusikan tidak kurang dari 800 unit mesin katinting kepada masyarakat nelayan pesisir yang selama ini daya jangkaunya relatif terbatas hanya sampai ke pinggir pantai akibat minimnya fasilitas perahu atau kapal penangkap nelayan tradisional setempat.
Melalui program pendistribusian mesin katinting ini, pihak Dis KP Kepulauan Selayar berharap, “kiranya, nelayan tradisional Kabupaten Kepulauan Selayar, dapat meninggalkan budaya penangkapan Sumber Daya Ikan yang selama ini hanya mengandalkan dayun dan layar”.
Lebih jauh, nelayan tradisional Bumi Tanadoang diharapkan mampu menjangkau perairan laut dalam, tempat bersarangnya ikan-ikan besar.
Terkait dukungan penuh Kementerian Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar juga telah mencanangkan program budidaya ikan karang di bawah koordinasi bidang budidaya perikanan budidaya seiring dengan lahirnya blue print percepatan pembangunan Kabupaten Kepulauan Selayar dalam rangka perwujudan Selayar sebagai Pusat Budidaya Ikan Karang.
Dan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan tersebut, terhitung sejak TA. 2009-2010 Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar telah mengalokasikan anggaran dana pembangunan keramba jarring apung dan keramba tancap yang dapat dilihat langsung di sepanjang pantai Padang, Kecamatan Bontoharu.
Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar di era Pemerintahan pertama Drs. H. Syahrir Wahab, MM ini juga mengaku telah melakukan serangkaian kegiatan pembinaan terhadap 16 kelompok nelayan tradisional yang sehari-harinya menggeluti kegiatan industri pengolahan sumber daya ikan. Sebut saja diantaranya, industri pengolahan terasi, ikan asin, dan abon-abon, ujar Marjani mencontohkan.
Meski kegiatan pembinaan dilakukan hanya dalam bentuk pendistribusian bantuan mesin pengolahan ikan menjadi abon yang anggaran bersumber dari dana APBD Kabupaten Kepulauan Selayar TA. 2009-2010. Namun, Dinas Kelautan & Perikanan telah berhasil melahirkan sedikitnya 20 kelompok nelayan tradisional pengolah sumber daya perikanan, berikut 400 kelompok petani budidaya rumput laut.
Alhasil, salah satu produk kerajinan terasi asal Bumi Penghasil Jeruk Manis tersebut pun berhasil menembus pasaran super market dan sejumlah swalayan pusat perbelanjaan di Kota Makassar. Setelah sebelumnya, pihak Dis KP turun langsung melakukan pembinaan kelompok pengrajin yang terbukti mampu menghasilkan produk berkualitas dan bermutu, termasuk dalam persoalan pengepakan hasil kerajinan itu sendiri.
Terakhir, Marjani menandaskan, bahwa dalam kurun waktu satu tahun kepemimpinannya sebagai Kepala Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Dinas yang dinauinginya itu, telah berhasil membentuk dan melahirkan sedikitnya 42 daerah perlindungan laut pada 42 wilayah desa pesisir, untuk menunjang berjalan efektifnya sisi pengawasan perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar melalui dukungan Peraturan Desa.
Bahkan belum lama ini, kelompok masyarakat pengawas perairan laut, asal Desa Bontolempangang dan Desa Bonerate yang direkomendasikan mewakili Kabupaten Kepulauan Selayar dalam event kejuaraan bertaraf nasional di Jakarta berhasil keluar sebagai juara umum lomba antar kelompok pengawas perairan laut di tanah air.

DKP Kepulauan Selayar Canangkan Gerakan Transplantasi Karang Buatan

Menanggapi kekecewaan Danlantamal wilayah VI Makassar terkait mulai rusaknya terumbu karang di dalam kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate, Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar menyatakan, “sejak jauh-jauh hari pihak DKP setempat, telah memprogramkan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi & transplantasi karang buatan dengan cara mencangkok dan melepaskan karang pada sebuah media, sampai karang tersebut menunjukkan pertumbuhan, sebelum kemudian dilepas kembali ke habitat awalnya.
Meski transplantasi karang diakui sebagai salah satu metode terbaik untuk melestarikan terumbu karang. Namun, dari beberapa penelitian yang telah dilakukan pihak DKP Kepulauan Selayar terungkap, “kegiatan rehabilitasi karang ini membutukan waktu yang relatif cukup lama serta biaya besar. Pasalnya, karang buatan ini tumbuh hanya antara dua setengah sampai lima centimeter pertahun.
Kendati membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat melihat kemajuan pertumbuhan karang yang dihasilkan dari kegiatan rehabilitasi transplantasi karang buatan. Akan tetapi. Marjani tetap optimis untuk terus melakukan langkah-langkah pelestarian terumbu karang melalui metode artificial rief atau kegiatan transplantasi karang buatan dengan memanfaatkan barang-barang bekas, berupa body mobil rusak, ban-ban mobil bekas, ataupun wadah beton yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sebelum dilepas ke dasar laut.
Dengan demikian, karang diharapkan dapat tumbuh subur di sekitar media barang-barang bekas yang telah ditenggelamkan ke dasar laut. Plus, karang buatan ini bisa menjadi tempat bermain ikan. Sehingga dengan sendirinya, hal tersebut akan memperdekat akses nelayan pemancing atau setidaknya, lokasi karang buatan dapat berfungsi ganda sebagai arena mancing wisatawan.
Kegiatan transplantasi karang ini sendiri di pusatkan di perairan laut Gusung, Desa Bonto Lebang, Kecamatan Bontoharu dan Perairan Desa Kayuadi Kecamatan Takabonerate melalui pengalokasian anggaran pada pos APBD tahun 2006-2007. Sayang sekali, dalam perjalanannya hanya terdapat sebahagian kecil karang buatan yang menunjukkan pertumbuhan.
Sedangkan sisanya, mati karena tertimpa jangkar perahu nelayan yang kemungkinannya tidak mengetahui keberadaan karang buatan dimaksud. Dalam kaitan itu, Marjani Sultan tidak lupa menitipkan amanah kepada masyarakat nelayan tradisional di daerah itu, untuk tetap berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan terumbu karang, baik karang buatan maupun karang asli yang masih dimiliki perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar agar karang-karang tersebut dapat semakin berkembang.
Disamping, memang dibutuhkan pengawasan ketat dari instansi terkait mulai dari jajaran Dinas Kelautan & Perikanan, MCS Coremap II, Balai Taman Laut Nasional Takabonerate, aparat Kepolisian Resort Kepulauan Selayar dan Satgas pengawasan dari unsur Polairud.
Terlebih lagi, beberapa referensi menunjukkan, “metode transplantasi karang, lebih banyak dimanfaatkan pada wilayah-wilayah perairan yang tidak memiliki kawasan terumbu karang. Semisal luar negeri, yang lebih cenderung menggunakan metode artificial rief, karena pertumbuhan karangnya yang sangat terbatas, tandas Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar itu. (*)

Bupati Kepulauan Selayar Lepas Peserta Takbir Keliling

Aparat Satuan Lalu Lintas Evakausi Korban Laka Lantas 

 Di atas panggung kehormatan Rumah Jabatan, Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Drs. H. Syahrir Wahab, MM didampingi sejumlah Kepala SKPD dan jajaran Muspida Kabupaten Kepulauan Selayar, hari Selasa, (16/11) malam, resmi melepas peserta pawai takbir keliling menyambut perayaan Idul Adha 1431 H. Dalam sambutan pelepasannya Syahrir Wahab berharap “takbir keliling dalam rangka pelaksanaan shalat Idul Adha 1431 H tahun 2010 ini dapat berjalan lancar tanpa diwarnai kejadian apapun”, jelasnya. Usai menyampaikan sambutan singkatnya, dengan mengucapkan “Bismillahi Rahmanir Rahim” orang nomor satu di daratan Selayar itu, melepas secara resmi peserta pawai takbir keliling di bawah pengawalan ketat Satuan Lantas dan Polisi Pamong Praja Kabupaten Kepulauan Selayar. Kegiatan takbir keliling yang dipandu dari Masjid Agung Al Umaraini Benteng Selayar ini berlangsung jauh lebih semarak ketimbang takbir akbar tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, untuk kali pertama, suara dan warna-warni letusan petasan, turut mewarnai langit Bumi Tanadoang, seiring dengan pengucapan lafadz Basmalah oleh Bupati Kepulauan Selayar menandai pelepasan peserta takbir keliling. Bahkan, masyarakat Ibukota Benteng Selayar tampak sangat antusias menyambut iring-iringan kendaraan peserta pawai takbir keliling yang dirilai langsung dua stasiun radio lokal Kabupaten Kepulauan Selayar yakni, Radio Contrend FM bekerjasama dengan Radio Mapan Mandiri Tanadoang. Kendati, beberapa saat menjelang detik-detik pelepasan peserta takbir keliling malam itu, suasana di depan panggung kehormatan rumah jabatan bupati sempat diwarnai oleh insident kecelakaan lalu lintas antara pengendara motor dan seorang bocah pengendara sepeda. Beruntung, aparat satuan lalu lintas Polres Kepulauan Selayar dapat bekerja cepat melakukan olah TKP dan mengevakuasi korban dan penabraknya, ke Mako Polres setempat. guna kepentingan penanganan lebih lanjut. (*)

Bersama MCS Coremap II Kepulauan Selayar Menekan Angka Illegal Fishing

Pelarangan penggunaan alat tangkap moroangin dalam aktivitas melaut, tidak terlepas dari kepentingan masyarakat nelayan pesisir. Demikian kutipan pernyataan Agus Lien dalam perbincangan dengan wartawan di Kantor Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar usai menerima kunjungan nelayan Desa Appatanah belum lama ini.
Melalui pelarangan penggunaan alat bantu compressor, Agus Lien berharap tidak lagi akan terjadi kegiatan illegal fishing berupa pengrusakan karang di sekitar perairan Kabupaten Kepulauan Selayar. Utamanya,di daerah kawasan terumbu karang.
Pihaknya berharap, agar masyarakat dapat betul-betul menjaga dengan baik kawasan terumbu karang yang terdapat di dalam wilayah perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar. Sehingga, populasi ikan dapat bertambah dan pada akhirnya nanti, tingkat kehidupan nelayan dapat lebih sejahtera.
Agus mengingatkan, perpindahan ikan yang disebabkan oleh kerusakan terumbu karang, tentu akan berimbas merugikan masyarakat nelayan pesisir dengan terjadinya perpindahan fishing ground. Sebab, mayoritas ikan di perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar adalah ikan dasar dan bukan ikan permukaan.
Sedikit Agus menggambarkan, ikan permukaan memiliki sifat berimigrasi. Sedangkan ikan dasar memiliki kebiasaan menetap, dan ketika tempatnya terusik, maka seketika itu pula ikan-ikan tersebut akan berpindah tempat. Pada saat bersamaan cos nelayan akan mengalami pertambahan disebabkan karena perpindahan lokasi penangkapan ikan.
Hal itulah yang kemudian menjadi beban pemikiran Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar agar para nelayan tradisional bisa menghasilkan nilai pendapat yang lebih tinggi dengan cos atau biaya rendah.
Sementara itu, menanggapi persoalan presentase kerusakan terumbu karang Kabupaten Kepulauan Selayar, Agus Lien menjawab, Dinas Kelautan & Perikanan setempat, belum pernah melakukan penelitian menyangkut wilayah sebaran kerusakan terumbu karang.
Seiring makin rendahnya hasil tangkapan ikan dasar yang diperoleh para nelayan yang dibarengi dengan kian menurunnya derajat kehidupan warga masyarakat pesisir. Maka instansi teknis Dinas Kelautan berkesimpulan bahwa ekosistem terumbu karang Kabupaten Kepulauan Selayar mulai mengalami kerusakan.
Menurut pejabat baru di Lingkungan MCS Coremap II ini, “Dari, 132 buah pulau yang memiliki kawasan terumbu karang di Kabupaten Kepulauan Selayar hampir semuanya dinilai berpotensi menjadi sasaran para pelaku illegal fishing. Khusnya, di kalangan nelayan pengguna potasium zianida dan handak.
Kendati demikian, pihaknya menjelaskan, sampai sejauh ini aparat Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar telah berhasil membentuk sedikitnya 52 pulau daerah perlindungan laut yang turut diiringi dengan pembuatan Peraturan Daerah.
Lebih jauh lembaga MCS Coremap II juga telah menyusun serangkaian program kerja pendamping dalam rangka untuk mendukung pelestarian ekosistem terumbu karang bersama sejumlah komponen lain yang juga bergerak pada bidang pelestarian alam laut.
Program tersebut antara lain : melakukan inventarisasi, penelitian tentang tingkat pertumbuhan karang. Termasuk diantaranya, menggalakkan monitoring, patroli, dan pengawasan terhadap kegiatan illegal fishing serta mengupayakan langkah-langkah pembinaan dan pemberdayaan masyarakat nelayan pesisir yang dianggap berpotensi menjadi pelaku illegal fishing.
Disamping itu, lembaga MCS Coremap II Kabupaten Kepulauan Selayar juga tak henti-hentinya melakukan kegiatan sosialisasi penyadaran di kalangan warga masyarakat akan arti pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang secara berkelanjutan.
Bahkan, beberapa waktu lalu lembaga MCS Coremap II telah berhasil melakukan rangkaian kegiatan transplantasi karang buatan di perairan Kecamatan Takabonerate yang dinilainya sangat efektif, untuk ditumbuh kembangkan dan secara umum telah banyak diterapkan di daerah-daerah lain di tanah air.
Kendati kegiatannya sendiri, tetap harus didasarkan pada kondisi geografis, potensi, dan pola penganggaran di daerah bersangkutan, kuncinya. (*)

Selayar Sosialisasikan Tangkap Ikan Ramah Lingkungan

Sosialisasi tangkap ikan ramah lingkungan menjadi target pada penyelenggaraan Tanadoang Fishing Tournament di Kabupaten Selayar Sulsel 27-28 Nopember 2010. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Selayar Marjani Sultan di Makassar, Selasa, mengatakan, sosialisasi alat tangkap ramah lingkungan ini setidaknya dapat menjaga ekosistem laut, di antaranya ekosistem terumbu karang.
Menurutnya olahraga memancing ini perlu mendapatkan perhatian pemerintah, khususnya di sektor kelutan dan perikanan. Selayar sendiri telah beberapa kali menjadi tuan rumah penyelenggara lomba memancing.
Sekertaris Panitia Andi Batara Gau mengatakan, kegiatan yang digelar oleh Federasi Olah Raga Mancing Seluruh Indonesia ini akan berlangsung di perairan Tanadoang Kabupaten Selayar akan melibatkan puluhan nelayan untuk menjadi tim pengawas dari masing-masing peserta. Berdasarkan pengalaman, tidak sedikit peserta yang memprotes karena kurangnya pengawas dan dugaan adanya pelanggaran saat lomba berlangsung.
Panitia menggelar lomba dengan kategori pancing dasar dan kategori pancing malam dengan penilaian berdasarkan total berat ikan yang berhasil di tangkap. Ratusan peserta dari Sulsel dan kemungkinan peserta dari luar Sulsel akan memperebutkan total hadiah senilai puluhan juta rupiah.
Formasi menyayangkan olah raga memancing belum masuk dalam daftar cabang olah raga yang di pertandingkan pada Pekan Olah Raga Daerah atau Pekan Olah Raga Nasional. Namun, menurut Marjani, organisasi akan mengupayakan agar memancing bisa dimasukan dalam daftar cabang olah raga yang dipertandingkan pada perhelatan olah raga daerah atau nasional.(*)

Segera Terbit & Beredar Buku Bertajuk “Menyusuri Potensi Pariwisata Bumi Turatea”

Lahir dari Ketulusan Hati Gadis Bungong Lompoa (Basmiati Bakkang)

Kering dan tandus. Setidaknya, begitulah kesan awal kebanyakan orang di kala membicarakan nama Jeneponto. Sebuah kabupaten di bagian selatan Provinsi Sulawesi-Selatan yang letaknya tepat berada di pertengahan antara Kabupaten Takalar dan Kabupaten Bantaeng.
Kultur tanahnya yang mudah retak akibat pengaruh musim panas berkepanjangan menjadi kendala awal masyarakat setempat di kala akan mencoba untuk bercocok tanam. Utamanya, di kala musim kemarau tiba dan melanda daerah berjuluk Bumi Turatea ini.
Namun siapa sangka, jika dibalik kesan tandus dan kering tersebut, Bumi Turatea terbukti mampu menggaet dan menaklukkan hati banyak orang yang sekali waktu pernah datang bertandang ke daerah perdagangan buah tala itu.
Keberadaan pemandangan bukit dan hamparan persawahan di sisi kiri pendakian Karamaka, Desa Bantimanuru, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto menjadi inspirasi awal penulis untuk menurunkan rangkaian laporan perjalanannya ke dalam sebuah buku yang diberi judul “Menyusuri Potensi Pariwisata Bumi Turatea”.
Sebuah buku yang sengaja diracik penulisnya untuk membuka tabir potensi pariwisata Kabupaten Jeneponto. Hal ini diilhami oleh persepsi sang editor buku dan sejumlah kontributor lokal asal Bumi Turatea yang melihat cenderung rendahnya pemahaman masyarakat Jeneponto akan potensi pariwisata daerah mereka.
Termasuk pada pengenalan lokasi situs-situs bersejarah, seperti bangunan tua mirip cerobong asap di kaki pendakian Karamaka. Sebuah bangunan yang terselip diantara sesaknya kepadatan pemukiman warga masyarakat dan selama ini dikenali sebagai industri pembakaran kapur.
Sungguh pun, buku ini diyakini tidak akan sepenuhnya mampu menggambarkan keanekaragaman potensi wisata yang terdapat di daerah kekuasaan Drs. H. Radjamilo, MP tersebut. Pasalnya, buku bertajuk “Menyusuri Potensi Pariwisata Bumi Turatea” ini, hanya merupakan catatan perjalanan sederhana yang lahir dari sebuah rumah berukuran sederhana di wilayah Bungung Lompoa, Kecamatan Tamalatea.
Udara sejuk yang menyeruak dari atas bangunan rumah bercat warna coklat bernomor 254 di kawasan Bungong Lompoa tersebut, tak lepas memberikan dukungan penuh pada proses penyusunan buku yang tengah digarap sang penulis. Buku yang bermuatan penuturan para wisatawan ini saban hari diharapkan mampu menjadi pedoman bagi wisatawan lokal mapun wisatawan Mancanegara yang ingin mengenal lebih dekat seluk-beluk Kabupaten Jeneponto.
Karya yang terlahir dari support dan dorongan semangat tulus dari hati kecil seorang Basmiati Bakkang ini, diakui penulis, sangat memegang peranan penting. Begitu pula halnya dukungan senyum tulus dan keceriaan hati seorang Mhyra bersama saudara-saudaranya yang lain. Sebut saja, Alisrawati Bakkang, Basmawati Bakkang, kak Bansu, dan Alif sang bocah genius dari Kecamatan Tamalatea.
Terakhir, ucapan terima kasih tak terhingga disampaikan penulis kepada ayahanda H. Bakkang, ibunda tercinta serta Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Jeneponto, Muh. Asrul.(*)

Kegiatan Bulan Bhakti PMI Siap Meriahkan Peringatan Hari Jadi Kepulauan Selayar ke 405

Bersamaan dengan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar ke 405 tahun, organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kepulauan Selayar dibawah kepemimpinan H.Saiful Arif, SH rencananya akan melakukan program Bulan Bhakti PMI sebagai wujud nyata keberadaan PMI di wilayah Kabupaten Kepulauan selayar.
Bulan Bakti tersebut akan diawali dengan penggalangan relawan PMI di Bumi tanadoang dengan sepenggal harapan, “semoga pelaksanaan bulan bakti ini dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan kebersamaan, khususnya menyikapi penetapan Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai daerah rawan bencana.
Kepengurusan PMI sendiri baru terbentuk kembali setelah sempat vakum selama lima tahun tanpa adanya aktivitas nyata dan terorganisir. Palang Merah Indonesia (PMI). Bupati Kepulauan Selayar, Drs.H.Syahrir Wahab MM, resmi ditetapkan sebagai Pembina merangkap penasehat PMI Kepulauan Selayar pada hari Rabu, (3/10) lalu.
Menyambut terbentuknya kembali organisasi PMI, Bupati Kepulauan Selayar dalam sambutannya mengungkapkan “Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar akan memberikan apresiasi positif dan ruang yang cukup pada aktivitas tahunan organisasi kemanusiaan di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar dengan harapan, “saban hari, markas PMI dapat disatukan dengan pemadam kebakaran dan organisasi lainnya”.
Sementara itu Ketua PMI Cabang Kepulauan Selayar, H.Saiful Arief.SH, menyatakan, “pihaknya siap mengawal perjalanan organisasi PMI untuk dapat lebih aktif dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan menjadikan penggalangan sumber daya manusia optimal sebagai program skala prioritas.
Selain juga dibutuhkan adanya kegiatan inventarisasi organisasi yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak kegiatan PMI. Salah satunya, dalam rangka memeriahkan penyelenggaraan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar yang jatuh pada (29/11) 2010 mendatang.
Terkait sumbangsih yang akan diberikan PMI kepada masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, SH menandaskan, dibawah kepemimpinannya, organisasi PMI akan berupaya optimal untuk menyerap perhatian dan dukungan semua pihak.
Terlebih lagi, dirinya selaku Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar terpilih hasil Pilkada (23/6) telah mendapatkan dukungan penuh bupati dalam upaya pengembangan organisasi PMI di daratan Bumi Tanadoang.(*)

Mengembalikan Kejayaan Kabupaten Kepulauan Selayar Sebagai Kawasan Arus Perdagangan Nusantara


Kondisi alam daerah Kabupaten Kepulauan Selayar yang terbentuk dari gugusan banyak pulau membuat alat transportasi laut mempunyai peranan yang sangat penting. Dari zaman perahu layar, berangsur berubah menjadi perahu bermesin alias kapal motor, hingga adanya Ferry saat ini, transportasi lautlah yang menjadi andalan masyarakat Kepulauan Selayar untuk berinteraksi dengan pihak luar, ataupun antar pulau dalam wilayah kepulauan Selayar sendiri.
Saat ini, Pelabuhan Ferry Pamatata, menjadi pintu gerbang utama memasuki daratan Kepulauan Selayar melalui laut. Fasilitas penyebrangan kapal Ferry ini, dirasakan jauh lebih memadai. Berbagai usaha mulai dilakukan untuk perbaikan tersebut, yang salah satunya pembangunan pelabuhan Pelni di kawasan Pelabuhan Pamatata.
Pembangunan pelabuhan Pelni yang lokasinya itdak jauh dari pelabuhan Ferry di ujung utara Pulau Kepulauan Selayar itu, diharapkan bisa memperlancar arus keluar masuk Kabupaten Kepulauan Selayar.
Menurut rencana, pelabuhan ini akan disinggahi kapal yang berlayar dari arah wilayah timur menuju wilayah barat Indonesia. Demikian pula sebaliknya. Perancangan Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi arus Timur-Barat Indonesia via laut, mengingatkan kita pada peta arus perdagangan kawasan kepulauan Nusantara beberapa abad yang lalu.
Saat itu, Kabupaten Kepulauan Selayar menjadi pusat transit kapal-kapal saudagar dari berbagai penjuru. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya situs barang antik di dasar laut Kepulauan Selayar.  Secara logika, posisi Kepulauan Selayar memang sangat strategis, menghubungkan timur dan barat, demikian juga wilayah utara dan selatan.
Bila pelabuhan Pelni dapat segera beroperasi, maka Pelabuhan Pamatata akan berfungsi sebagai pelabuhan transit Ferry route pelayaran Bira, Pamatata, Pattumbukang, Kecamatan Kepulauan masing-masing Kecamatan Takabonerate, Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, Pasimarannu & Pasilambena. Termasuk diantaranya menghubungkan Kabupaten Kepulauan Selayar dengan NTT (Reo, Sikka).
Untuk sementara, pelayaran itu direncanakan akan menggunakan kapal KMP. Belida dan KMP. Bontoharu. Sementara jadwal pelayaran direncanakan akan berlangsung sekali sepekan, berangkat setiap hari Kamis.
Mengingat kondisi perairan Kabupaten Kepulauan Selayar yang tergolong ganas, maka pelayaran akan ditunda jika cuaca tidak memungkinkan. Menurut rencana, Dari Bira juga akan diadakan route pelayaran tambahan yaitu Bira, Bau-Bau dengan kapal KMP. Sangke Pallangga.
Jadwal keberangkatan dari Bira juga direncanakan berlangsung sekali sepekan, yakni : setiap hari Selasa. Jadwal ini konon akan mengalami perubahan berdasarkan kondisi serta keadaan penumpang yang akan melintasi route ini.(R.05)  

Pasca Pelarangan Penggunaan Alat Bantu Compressor Nelayan Desa Appatanah Mengaku Berdagang Kayu Bakar


Puluhan keluarga nelayan Desa Appatanah, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar mulai diresahkan dengan pelarangan penggunaan alat bantu compressor dalam aktifitas penangkapan ikan di laut. Sejumlah warga masyarakat pun mulai beralih profesi sebagai pencari dan pedagang kayu bakar.
Salah seorang warga nelayan asal Appatanah bernama Karman, yang dikonfirmasi wartawan usai mengikuti pertemuan tatap muka dengan jajaran Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar terkait dengan pelarangan compressor ini mengungkapkan, ‘Pasca dilarangnya pemanfaatan alat bantu compressor pada rutinitas penangkapan ikan di laut, sebahagian warga nelayan di desanya, terpaksa harus menyambung hidup dengan beralih profesi sebagai pedagang kayu bakar.
Padahal sebelumnya, tidak ada warga Desa Appatanah yang berprofesi sebagai pencari dan pedagang kayu bakar. Pasalnya, hampir 90 persen masyarakat adalah nelayan samba’.  Mendasari kunjungan warga nelayan Desa Appatanah ke Kantor Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Kepala Bidang Pesisir & Pulau-Pulau Kecil, Agus Lien saat dimintai konfirmasi wartawan  hari Senin, (15/11) 2010 menyatakan. “Para nelayan ini datang untuk mencari solusi terbaik pasca pelarangan penggunaan alat bantu compressor dalam aktivitas penangkapan ikan di laut”.
Dari hasil pertemuan antara nelayan dan jajaran Dinas Kelautan disimpulkan, kiranya warga nelayan pengguna alat bantu compressor dapat mengurus rekomendasi dari Pemdes masing-masing sebagai sebuah jaminan tidak terulangnya kembali penyalahgunaan compressor pada kegiatan illegal fishing.
Menurut Agus, rekomendasi tersebut harus diketahui Camat setempat sebelum kemudian diajukan kepada bupati untuk diberikan izin penggunaan compressor sebagaimana harapan warga masyarakat. Pasalnya, pihak Dinas Kelautan mengaku tidak ingin merugikan masyarakat nelayan. 
Dikatakannya, Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar tetap akan memikirkan solusi terbaik dari persoalan ini. Salah satunya dengan mempertimbangkan persoalan batas waktu penggunaan compressor dan lokasi yang dimungkinkan untuk menjadi pusat penangkapan ikan dengan penggunaan alat bantu compressor.
Kendati hal ini sangat bergantung pada hasil kesepakatan rapat Muspida bersama Dinas Kelautan & Perikanan, setelah diterbitkannya rekomendasi dari masing-masing kepala desa dan camat dengan mendasari surat edaran Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar Tentang Pelarangan Penggunaan Alat Bantu Compressor sebagaimana tertuang pada lembaran UU 45 Pasal 9 Tahun 2009 yang merupakan perubahan dari UU No. 31 Tahun 2004 Tentang  Pelarangan penggunaan alat bantu, perahu mini, pukat harimau dan compressor, jelas Agus Lien. (R.05) 

Kedepankan Keselamatan Pelayaran Dengan Mematuhi Arahan Petugas Pelabuhan



Terkait persoalan keselamatan pelayaran di lintasan Pamatata-Bira selama berlangsungnya arus mudik lebaran Idul Adha 1431 H, Manager Operasional PT. ASDP Cabang Kabupaten Bulukumba, Djamaluddin menghimbau, masyarakat pengguna jasa penyeberangan di kedua lintasan ini untuk senantiasa mematuhi rambu-rambu yang terpasang di sekitar pelataran pelabuhan dan mengindahkan arahan dari anak buah kapal.
Hal ini dinilai penting guna menekan terjadinya potensi perlambatan proses penyeberangan di lintasan Pelabuhan Bira-Pamatata
Terlebih lagi, selama ini warga masyarakat dinilai kurang mematuhi arahan petugas pelabuhan. Khususnya, dalam persoalan antrian kendaraan.  Sebagai dampaknya, pemberangkatan kapal tidak jarang harus mengalami penundaan dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
Kondisi tersebut kata Jamaluddin diperparah oleh rendahya kesadaran masyarakat dalam mematuhi tata tertib penyeberangan. Termasuk salah satu diantaranya, pelanggaran terhadap larangan merokok di card deck kapal, yang dinilai sangat rawan menimbulkan kebakaran.
Apatah lagi, dengan banyaknya kendaraan berisi bahan bakar bensin yang setiap hari memadati ruang card deck kapal dan tidak tertutup kemungkinan ada diantaranya yang mengalami kebocoran pada bagian tangki bahan bakar.
Sementara itu, menyikapi prediksi cuaca buruk yang dimungkinkan terjadi di  perairan Kabupaten Kepulauan Selayar dalam beberapa waktu kedepan, Jamal menjelaskan “pihaknya telah melakukan koordinasi dengan BMKG Sulawesi-Selatan”.
Dari hasil koordinasi yang dilakukan pihak PT. ASDP Cabang Kabupaten Bulukumba dengan BMKG Sulawesi-Selatan terungkap bahwa seiring dengan kian canggihnya perangkat tekhnologi, “potensi kerawanan bencana” sudah dapat terbaca 1x24 jam, atau beberapa jam sebelum berlangsungnya musibah dimaksud.
Jamal menandaskan, hampir setiap hari PT. ASDP Cabang Kabupaten Bulukumba memantau secara langsung peluang bencana yang dimungkinkan terjadi di sekitar perairan Pelabuhan Bira-Pamatata. Namun Alhamdulillah, sampai saat ini sama sekali belum ada tanda-tanda akan terjadinya cuaca buruk, semisal gelombang pasang ataupun badai yang datangnya tiba-tiba. “Kalaupun akan terjadi bencana, kemungkinan tersebut sudah akan terpantau beberapa jam sebelumnya, cetus pria berkacamata itu diakhir wawancaranya dengan Media Contrend Indonesia. (R.05)

Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia


 Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Salah seorang mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, Abdul Djabbar Pattisahusiwa atau lebih akrab dipanggil Abu Pattisahusiwa, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Makassar, Senin malam, 8 November 2010, dan dimakamkan keesokan harinya di pemakaman Islam Sudiang, Makassar.
Abu Pattisahusiwa yang lahir di Maluku, 15 Mei 1937, meninggalkan seorang isteri (Hj Halidjah Sanaki), lima anak, dan delapan cucu. Salah seorang putrinya, Nur Fajriah, mengatakan ayahnya sudah lama terkena stroke dan praktis dalam dua bulan terakhir hanya terbaring di tempat tidur.
''Ayah kami sudah lama sakit, sejak terjatuh kedua kalinya, ayah hanya bisa terbaring di tempat tidur,'' ungkapnya kepada penulis. Sejumlah mantan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat turut melayat di rumah duka, sehingga terjadi reuni kecil-kecilan.
Dengan meninggalnya Abu Pattisahusiwa maka kini tinggal beberapa orang wartawan senior harian Pedoman Rakyat (harian Pedoman Rakyat terbit sejak 1 Maret 1947 dan terbit terakhir pada 2 Oktober 2007) yang masih hidup. Wartawan senior harian ini yang telah meninggal dunia, antara lain LE Manuhua (25 November 2010), Buce Rompas (4 November 2009), dan Petrus Beda (2010).
Wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia dalam empat tahun terakhir, yaitu Hasanuddin alias Hanter (wartawan), Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan / 10 Mei 2009), L.F. Sahertian (karyawan / 25 Juli 2009), dan J B Pinontoan (mantan Direktur Utama PT Media Pedoman Jaya / 19 April 2010).
Abu Pattisahusiwa bergabung di Pedoman Rakyat sejak tahun 50-an. Wartawan senior Pedoman Rakyat (PR), Verdy R Baso, mengatakan, almarhum Abu Pattisahusiwa jauh lebih dahulu bergabung di harian 'PR' dibandingkan dirinya. ''Saya bergabung di PR pada tahun 1969. Sebelum bergabung di PR, saya adalah wartawan harian Tegas. Pak Abu sudah lama di PR, mungkin beliau hampir seangkatan dengan Pak Manuhua,'' kata Verdy.
Trio
Verdy mengatakan, selama puluhan tahun bersama-sama di PR, tak pernah sekalipun Pak Abu bermasalah, karena orangnya tidak banyak bicara dan juga tidak pernah macam-macam. ''Beliau itu pekerja dan tenang sekali, jarang bicara. Orangnya baik sekali. Beliau cukup lama menjadi wartawan ekonomi. Jabatan terakhirnya di PR adalah Redaktur Pelaksana. Saya bersama beliau dan Pak Yasmin Tendan bergantian membuat tajuk rencana,'' paparnya.
Ketika masih aktif meliput di lapangan, Abu Pattisahusiwa selalu jalan bersama dengan dua sahabatnya, yakni Piet Langarin (Tabloid Gema) dan Tawakkal Tallu (RRI Makassar). Kedua rekannya itu juga sudah meninggal dunia. ''Mereka bertiga dikenal sebagai trio, karena selalu pergi meliput bersama-sama,'' ungkapnya.
Informasi tersebut dibenarkan oleh H Murtadji, Kepala Sekretariat PWI Cabang Sulsel. ''Mereka benar-benar trio dan sahabat kental,'' katanya. (asnawin)

Satuan Polisi Pamong Praja Tertibkan Lapak PK-5

Setelah sekian lama menjadi buah bibir di kalangan warga masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. Penertiban pedagang kaki lima, akhirnya resmi digelar Satuan Polisi Pamong Praja bersama aparat kelurahan dan kecamatan Benteng dengan melibatkan jajaran trantib masing-masing wilayah.
Menurut Kasat Pol PP, Abd. Wahid, S, Sos, penertiban ini sudah mulai digelar pihaknya, sejak hari Jumat, (19/11) kemarin, bertempat di sebelah utara Selayar Beach Hotel. Kegiatan penertiban serupa, kembali digelar Satuan Polisi Pamong Praja hari Selasa, (23/11) di sepanjang ruas jalan menuju dermaga Rauf Rahman Benteng Selayar.
Dikatakannya, kegiatan ini akan terus digencarkan aparat satuan Polisi Pamong Praja dalam rangka menciptakan keindahan tata ruang kota Benteng dengan menertibkan lapak-lapak pedagang kaki lima yang menempati lokasi tidak refresentatif, tandas Abd. Wahid, S.Sos saat dihubungi wartawan hari, Selasa, (23/11) siang via telefon selularnya. (*)

Pelaksanaan Test CPNSD Kepulauan Selayar Mengalami Penundaan

Terlambat Dikirim, 21 Berkas Pelamar Ditolak BKD Setempat

Jadwal pelaksanaan test calon pegawai negeri sipil daerah Kabupaten Kepulauan Selayar formasi tahun 2010 yang awalnya dijadwalkan akan berlangsung hari Senin, (6/12) mengalami perubahan jadwal hingga hari Jumat, (10/12) mendatang.
Sedangkan pembagian nomor test peserta ujian sendiri, dijadwalkan akan berlangsung dari tanggal (1-5/12) bulan depan. Demikian pernyataan Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Drs. Muhtar kepada wartawan diruang kerjanya hari Selasa, (23/11) pagi kemarin.     
Menurut Muhtar, jadwal pembagian nomor tes para calon pegawai negeri sipil daerah Kabupaten Kepulauan Selayar ini, masih harus menantikan hasil rapat yang rencananya akan digelar di Kantor Gubernur Sulsel hari Kamis, (25/11) pekan ini.      
Sementara itu, terkait pelaksanaan penerimaan calon pegawai negeri sipil daerah Kabupaten Kepulauan Selayar formasi tahun 2010, sedikitnya 21 berkas surat lamaran yang dikirim pelamar asal Kota Makassar, dan Kabupaten Sinjai, melalui layanan jasa Kantor Pos & Giro ditolak BKD Kepulauan Selayar, karena keterlambatan proses pengiriman yang dilakukan para pelamar bersangkutan.
Akibatnya, berkas lamaran ini, terpaksa harus tinggal bertumpuk di Kantor Pos & Giro Kabupaten Kepulauan Selayar sampai hari Selasa, (23/11) siang. (*) 

Perburuan Pelaku Ilegal Fishing Berakhir Memuaskan Target Operasi Di Gelandang Tim Patroli Terpadu MCS Coremap II

Perburuan pelaku illegal fishing yang dilakukan tim patroli terpadu MCS II Coremap Dinas Kelautan & Perikanan, Kabupaten Kepulauan Selayar di perairan Sangi-Sangiang, Kecamatan Pasimarannu, berakhir malam Senin, sekira pukul 01.00 dini hari WITA dengan diamankannya tiga orang pelaku oleh petugas patroli.
Namun dalam perjalanan menuju Polsek Pasimarannu, petugas patroli tim MCS Coremap mendadak dihadang sebuah perahu milik teman tersangka yang telah diamankan petugas, berikut barang bukti detonator dan tiga botol bom ikan.
Karena tidak didampinngi petugas bersenjata dari unsur kepolisian, malam itu juga perahu bermuatan barang bukti ikan dan detonator akhirnya dilepas petugas ke tangan teman tersangka La’ Olong.
Hal tersebut dilontarkan Andi Jaelani, SP dalam keterangan persnya saat dihubungi wartawan via telefon selularnya hari, Selasa, (23/11) 2010 pagi. Menurutnya, selain melepas barang bukti kapal, petugas patroli juga turut melepas dua orang tersangka atas nama Tapa dan Lamuhu yang masing-masing diketahui sebagai warga Pasitallu dan Kecamatan Pasimarannu.
Sedangkan tersangka La Oho tetap di bawah ke Polsek Marannu untuk diamankan bersama barang bukti tiga botol bom ikan. Namun, atas permintaan Kapolres, kasus ini kemudian dilimpahkan sepenuhnya ke Polres Kabupaten Kepulauan Selayar. Sementara dua tersangka lain yang dilepas petugas dinyatakan sebagai target operasi. Pasalnya, saat dicek ke rumah kediamannya masing-masing, kedua tersangka tidak berhasil ditemukan. (*)

Tim MCS Coremap II Kabupaten Kepulauan Selayar Lakukan Perburuan Pelaku Illegal Fishing

Tim patroli MCS Coremap Kabupaten Kepulauan Selayar yang dipimpin langsung Andi Jaelani, SP hari Minggu, (21/11) 2010 siang dilaporkan tengah melakukan perburuan kapal pelaku illegal fishing di perairan Bonerate, Kecamatan Pasimarannu. Perburuan pelaku berawal dari peledakan bom ikan di sekitar Pulau Lambego yang diduga kuat dilakukan oleh nelayan asal Kecamatan Takabonerate.
Menurut Jaelani, Tim MCS Coremap II beranggotakan tujuh orang ini melakukan perburuan dengan kecepatan 10 knot/jam ke arah timur laut Kabupaten Kepulauan Selayar. Tepatnya, kea rah bibir pantai Kecamatan Pasimarannu atau tepat pada titik S 070 -150’ 50,7 E 121-02-38.1
Sangat disayangkan, karena kapal yang ditumpangi tim patroli MCS Coremap II harus tertinggal jauh dari kapal pelaku yang kecepatannya jauh lebih tinggi. Sampai berita ini diturunkan, belum ada informasi lanjutan terkait dengan akhir perburuan yang dilakukan tim patroli MCS Coremap II Kabupaten Kepulauan Selayar tersebut. (*)

Kantor KUA Bontosikuyu Mengukir Prestasi Bersama Drs. Zainuddin

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Selayar Drs. Zainuddin saat ditemui wartawan diruang kerjanya belum lama ini mengutarakan, selama keberadaan Kantor Urusan Agama Kecamatan Bontosikuyu ini sudah ada beberapa jenis pertandingan yang pernah kami ikuti misalnya, lomba keluarga sakinah dan lomba Kantor KUA tauladan Tingkat Sulsel.
Namun sayang sekali dari kedua jenis lomba tersebut kami belum sempat meraih prestasi pada lomba bimbingan keluarga sakinah. Kendati demikian, itu tidak membuat kami berkecil hati, karena Alhamdulillah, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, mulai dari tahun 2004 sampai tahun 2005 KUA Bontosikuyu bisa masuk kedalam deretan Kantor KUA tauladan melalui keberhasilan KUA Bontosikuyu meraih prestasi Juara II lomba KUA tauladan dalam rangka HAB Depag Ke 58 Tahun 2004 dan Juara I lomba KUA tauladan dalam rangka HAB Depag Tahun 2005, jelasnya.
Dikatakannya, selain berhasil menggondol dua piala KUA tauladan, kami juga pernah menerima cendera mata ucapan terimakasih atas partisipasi pada kegiatan latihan dasar kepemimpinan Remaja Mesjid mengangkat thema, “Spirit Leader Planting Children” yang dilaksanakan di Desa Laiyolo baru oleh Pengurus IRM Nurul Jihad bekerjasama Plan Int Unit Program Selayar, ujar Zainuddin menambahkan. (*)

Laporan Perjalanan Gubernur Sulsel Menuju Kabupaten Kepulauan Selayar

Rombongan gubernur Sulawesi-Selatan Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, SH, Msi, MH tiba di Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba pada pukul 16.00 WITA hari, Rabu (29/9). Rombongan ini tiba, sesaat setelah KMP. Belida bertolak meninggalkan Pelabuhan Bira dengan mengangkut + 18 unit armada mobil dinas yang ditumpangi sejumlah tamu undangan dari luar daerah.
Sedikitnya, tiga armada kapal ferry di stand by kan dari Pelabuhan Bira Kabupaten Bulukumba untuk mengangkut rombongan guberbur sulsel menuju pelabuhan Pamatata, Kabupaten Kepulauan Selayar. Ketiga kapal tersebut masing-masing KMP. Belida, KMP. Bontoharu & KMP. Sangke Pallangga.
Demikian penjelasan Kepala Syahbandar Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba, saat dihubungi wartawan melalui telefon selularnya beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut dia menjelaskan, Gubernur Sulsel beserta rombongan yang menggunakan sedikitnya 50 unit armada mobil dinas Pemrov Sulsel telah berada di atas kapal KMP. Bontoharu dan diperkirakan akan bertolak meninggalkan Pelabuhan Bira pada pukul 16.30 WITA.
Tidak dimungkinkan adanya kendala pasang surut yang akan menghambat pemberangkatan rombongan menuju Kabupaten Kepulauan Selayar.
Seluruh mobil dengan tujuan Selayar dipastikan terakomodir dengan KMP. Bontoharu. Kendati demikian, pihak pelabuhan tetap mengantisipasi kemungkinan adanya kendaraan yang tidak terangkut dengan menyiapkan armada KMP. Sangke Pallangga.
Gubernur Sulsel dan rombongan meninggalkan Pelabuhan Bira 20 menit bergeser dari pukul 16.30 WITA dengan posisi terakhir Pulau Betang, Kabupaten Bulukumba. (*)