Redaksi

Selasa, 23 November 2010

DKP Kepulauan Selayar Canangkan Gerakan Transplantasi Karang Buatan

Menanggapi kekecewaan Danlantamal wilayah VI Makassar terkait mulai rusaknya terumbu karang di dalam kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate, Dinas Kelautan & Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar menyatakan, “sejak jauh-jauh hari pihak DKP setempat, telah memprogramkan pelaksanaan kegiatan rehabilitasi & transplantasi karang buatan dengan cara mencangkok dan melepaskan karang pada sebuah media, sampai karang tersebut menunjukkan pertumbuhan, sebelum kemudian dilepas kembali ke habitat awalnya.
Meski transplantasi karang diakui sebagai salah satu metode terbaik untuk melestarikan terumbu karang. Namun, dari beberapa penelitian yang telah dilakukan pihak DKP Kepulauan Selayar terungkap, “kegiatan rehabilitasi karang ini membutukan waktu yang relatif cukup lama serta biaya besar. Pasalnya, karang buatan ini tumbuh hanya antara dua setengah sampai lima centimeter pertahun.
Kendati membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat melihat kemajuan pertumbuhan karang yang dihasilkan dari kegiatan rehabilitasi transplantasi karang buatan. Akan tetapi. Marjani tetap optimis untuk terus melakukan langkah-langkah pelestarian terumbu karang melalui metode artificial rief atau kegiatan transplantasi karang buatan dengan memanfaatkan barang-barang bekas, berupa body mobil rusak, ban-ban mobil bekas, ataupun wadah beton yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sebelum dilepas ke dasar laut.
Dengan demikian, karang diharapkan dapat tumbuh subur di sekitar media barang-barang bekas yang telah ditenggelamkan ke dasar laut. Plus, karang buatan ini bisa menjadi tempat bermain ikan. Sehingga dengan sendirinya, hal tersebut akan memperdekat akses nelayan pemancing atau setidaknya, lokasi karang buatan dapat berfungsi ganda sebagai arena mancing wisatawan.
Kegiatan transplantasi karang ini sendiri di pusatkan di perairan laut Gusung, Desa Bonto Lebang, Kecamatan Bontoharu dan Perairan Desa Kayuadi Kecamatan Takabonerate melalui pengalokasian anggaran pada pos APBD tahun 2006-2007. Sayang sekali, dalam perjalanannya hanya terdapat sebahagian kecil karang buatan yang menunjukkan pertumbuhan.
Sedangkan sisanya, mati karena tertimpa jangkar perahu nelayan yang kemungkinannya tidak mengetahui keberadaan karang buatan dimaksud. Dalam kaitan itu, Marjani Sultan tidak lupa menitipkan amanah kepada masyarakat nelayan tradisional di daerah itu, untuk tetap berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan terumbu karang, baik karang buatan maupun karang asli yang masih dimiliki perairan laut Kabupaten Kepulauan Selayar agar karang-karang tersebut dapat semakin berkembang.
Disamping, memang dibutuhkan pengawasan ketat dari instansi terkait mulai dari jajaran Dinas Kelautan & Perikanan, MCS Coremap II, Balai Taman Laut Nasional Takabonerate, aparat Kepolisian Resort Kepulauan Selayar dan Satgas pengawasan dari unsur Polairud.
Terlebih lagi, beberapa referensi menunjukkan, “metode transplantasi karang, lebih banyak dimanfaatkan pada wilayah-wilayah perairan yang tidak memiliki kawasan terumbu karang. Semisal luar negeri, yang lebih cenderung menggunakan metode artificial rief, karena pertumbuhan karangnya yang sangat terbatas, tandas Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar itu. (*)