Lahir dari Ketulusan Hati Gadis Bungong Lompoa (Basmiati Bakkang)
Kering dan tandus. Setidaknya, begitulah kesan awal kebanyakan orang di kala membicarakan nama Jeneponto. Sebuah kabupaten di bagian selatan Provinsi Sulawesi-Selatan yang letaknya tepat berada di pertengahan antara Kabupaten Takalar dan Kabupaten Bantaeng.
Kultur tanahnya yang mudah retak akibat pengaruh musim panas berkepanjangan menjadi kendala awal masyarakat setempat di kala akan mencoba untuk bercocok tanam. Utamanya, di kala musim kemarau tiba dan melanda daerah berjuluk Bumi Turatea ini.
Namun siapa sangka, jika dibalik kesan tandus dan kering tersebut, Bumi Turatea terbukti mampu menggaet dan menaklukkan hati banyak orang yang sekali waktu pernah datang bertandang ke daerah perdagangan buah tala itu.
Keberadaan pemandangan bukit dan hamparan persawahan di sisi kiri pendakian Karamaka, Desa Bantimanuru, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto menjadi inspirasi awal penulis untuk menurunkan rangkaian laporan perjalanannya ke dalam sebuah buku yang diberi judul “Menyusuri Potensi Pariwisata Bumi Turatea”.
Sebuah buku yang sengaja diracik penulisnya untuk membuka tabir potensi pariwisata Kabupaten Jeneponto. Hal ini diilhami oleh persepsi sang editor buku dan sejumlah kontributor lokal asal Bumi Turatea yang melihat cenderung rendahnya pemahaman masyarakat Jeneponto akan potensi pariwisata daerah mereka.
Termasuk pada pengenalan lokasi situs-situs bersejarah, seperti bangunan tua mirip cerobong asap di kaki pendakian Karamaka. Sebuah bangunan yang terselip diantara sesaknya kepadatan pemukiman warga masyarakat dan selama ini dikenali sebagai industri pembakaran kapur.
Sungguh pun, buku ini diyakini tidak akan sepenuhnya mampu menggambarkan keanekaragaman potensi wisata yang terdapat di daerah kekuasaan Drs. H. Radjamilo, MP tersebut. Pasalnya, buku bertajuk “Menyusuri Potensi Pariwisata Bumi Turatea” ini, hanya merupakan catatan perjalanan sederhana yang lahir dari sebuah rumah berukuran sederhana di wilayah Bungung Lompoa, Kecamatan Tamalatea.
Udara sejuk yang menyeruak dari atas bangunan rumah bercat warna coklat bernomor 254 di kawasan Bungong Lompoa tersebut, tak lepas memberikan dukungan penuh pada proses penyusunan buku yang tengah digarap sang penulis. Buku yang bermuatan penuturan para wisatawan ini saban hari diharapkan mampu menjadi pedoman bagi wisatawan lokal mapun wisatawan Mancanegara yang ingin mengenal lebih dekat seluk-beluk Kabupaten Jeneponto.
Karya yang terlahir dari support dan dorongan semangat tulus dari hati kecil seorang Basmiati Bakkang ini, diakui penulis, sangat memegang peranan penting. Begitu pula halnya dukungan senyum tulus dan keceriaan hati seorang Mhyra bersama saudara-saudaranya yang lain. Sebut saja, Alisrawati Bakkang, Basmawati Bakkang, kak Bansu, dan Alif sang bocah genius dari Kecamatan Tamalatea.
Terakhir, ucapan terima kasih tak terhingga disampaikan penulis kepada ayahanda H. Bakkang, ibunda tercinta serta Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Jeneponto, Muh. Asrul.(fadly syarif)